Benarkah kasih ibu sepanjang jalan?

Kasus marshanda yang sedang gencar dipertontonkan di media youtube, gosip, dan berita. Teranyar caca tampil eksklusif di just alvin, didampingi pengaca kondang oc caligis, dari semua penuturan caca, menurutku dia cuma mempertanyakan “benarkah kasih ibu sepanjang jalan tanpa ujung?” Ibarat sebuah pertanyaan penelitian, caca menjabarkan pokok-pokok permasalahan dengan lugas
– sejak kecil caca tidak merasakan bonding ibu-anak
– caca merasa tidak pernah didengar, dipahami, dan dimengerti
– kebutuhan untuk ungkapan kasih sayang secara verbal dan pelukan tidak dipenuhi sang ibunda
– setiap meminta transparasi uang hasil kerja, ditolak dengan beragam gaya oleh ibunya
– caca dianggap mengidap gangguan jiwa bipolar

Ketika mendengarkan cerita masa lalu langsung dari sumber utama. Saya membayangkan sebuah skenario yang terjadi di kehidupan masa kecilnya. Kata kunci dari skenario saya adalah SELF CENTER, ini merupakan salah satu tipe kepribadian yang menomor satukan “AKU” beserta segala kebutuhan fisik, emosi, rohani, dan psikologis. Umumnya tipe self center memang sulit menjalin hubungan emosi dengan orang lain karena minim empati dan komunikasi. Jargon umum tipe ini adalah “Kebutuhanku dulu baru kebutuhanmu”, atau ” yang penting aku bahagia”.

Menurutku, kemungkinan ibunya caca dan caca tipe self center. Caca berulang kali mengungkapkan ibunya tidak menciptakan bonding ibu-anak, ibunya tidak mendengarkan curhatannya, ibunya tidak pernah memeluknya. Menurutku semua yang dialami caca sebenarnya juga dialami anak-anak lain, tetapi kenapa caca bereaksi esktrem?

Berdasarkan keterangan caca, saya mengambil kesimpulan mungkin saat ibunya cerai terjadi banyak konflik. Caca sebagai anak pertama merasa paling bertanggung jawab perceraian orangtuanya. Mungkin setelah perceraian, ibunya caca fokus memenuhi kebutuhan emosi dan psikologisnya sendiri. Caca sebagai anak yang terluka secara emosional membutuhkan ibunya secara psikologis untuk mendapatkan rasa aman, nyaman, dan melepaskan rasa bersalah. Tetapi kebutuhan ini tidak terpenuhi. Mungkin karena caca juga self center jadi caca hanya melihat bagaimana menyembuhkan dirinya sendiri, ibunya harus membantunya menyembuhkan emosi dan psikologisnya. Pergolakan batin di dalam diri caca berlangsung bertahun-tahun jadi saya tidak heran kalau caca mengalami depresi dan stres berat. Mungkin dampak dari pergolakan batin caca menunjukkan perilaku-perilaku yang ekstrim seperti video youtubenya pada tahun 2009.

Mungkin ibunya melihat perilaku-perilaku caca mirip dengan teman atau saudaranya yg mengalami gangguan jiwa. Nah, insting keibuannya menuntunnya untuk mengajak caca konseling dengan psikolog dan psikiater. Permasalahan muncul lagi, ibunya mungkin jarang bertanya dan berdiskusi mengenai kondisi psikologis caca sebelum, saat, dan sesudah konseling. Sebenarnya ini juga salah satu ciri tipe self center.

Ketika bertemu psikiater dokter ricard yang berakhir dengan diagnosa bipolar. Memang ada psikiater dan psikolog yang yakin bisa mendiagnosa tanpa melakukan assesmen. Dulu saya pernah mendapat cerita ada seorang anak yang datang ke psikolog karena tidak naik kelas 2 kali. Anak itu baru saja masuk ke ruangan dan psikolog mengatakan ke orangtua “anak ibu IQnya 80, makanya tidak naik kelas” tanpa tes IQ. Psikolog tersebut termasuk psikolog tenar. Jadi saya membayangkan mungkin dokter ricard juga tipe seperti itu. Psikiater + tenar jadi ibunya caca yakin pada diagnosa dokter.

Setau saya orang-orang yang sudah didiagnosa gangguan jiwa memang tidak dapat mengambil keputusan medis sendiri. Saya ingat dulu saat praktek kerja lapangan di sebuah rumah sakit jiwa. Tidak ada satupun pasien disana yang datang dengan sukarela, karen mereka yakin mereka sehat seperti orang lain. Ada yang dipaksa, ada yang dibohongin anggota keluarga lainnya agar mau ke RSJ. Dan setiap obat yang diberikan kepada pasien-pasien tidak pernah melalui persetujuan dengan pasien. Bahkan ketika saya mendapat tugas untuk mewawancarai salah satu pasien, saya dipesan oleh psikolog senior “pasien kurang bisa membedakan realitas dan imajinasi, jadi pasien akan membuat cerita sesuai ‘dunia’nya. Jangan percaya begitu saja informasi dari pasien”. Saya membayangkan mungkin seperti yang dialami caca, sehingga ibunya cac memutuskan harus dia yang mengambil keputusan medis atas caca.

Saya tidak membenarkan atau menyalahkan sikap caca dan ibunya. Ini hanya cara saya memahami konflik ibu-anak dari pihak ibu. Apakah benar kasih sayang ibu sepanjang jalan? Menurut saya, IYA. Hanya saja masing-masing orang mempunyai cara tersendiri untuk menunjukkan kasih sayangnya. Terutama orang tipe self center.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s