Mimpi, bunga tidur atau bukan?

Aku sering dapat pertanyaan dari orang-orang sekitarku, bahkan orang yang baru bertemu sekali denganku. “Kamu tau arti mimpiku?” Mereka memintaku menerka-nerka arti mimpi mereka, tapi favorit mereka menerka ala primbon jawa. Aku pernah melihat buku tafsir mimpi (baca:primbon) di pameran buku di gedung wanita semarang. Bukunya lumayan tebal, perbenda atau orang yang muncul dalam mimpi punya arti masing-masing. Tapi ada juga yang menyakini mimpi itu hanya sekedar bunga tidur tanpa arti dan makna di dunia nyata. Awalnya aku juga menyakini mimpi itu tidak lebih dari bunga tidur, pemanis tidur, atau hanya sebuah drama kehidupan yang kebetulan diputar saat tidur. Tapi keyakinanku itu berubah setelah dosen psikologi klinis di S1 memperkenalkanku pada Freud dan Jung. Aku jatuh cinta pada pendengaran pertama dari teori-teori mereka.

Aku kagum dengan pemaparan mereka mengenai alam bawah sadar. Bagaimana alam bawah sadar menyimpan sejuta cerita lengkap dengan emosi yang menyertai. Peristiwa yang tidak inginkan atau tidak perlu diingat lagi secara otomatis mengendap di alam bawah sadar. Bayangkan betapa luas alam bawah sadar kita. Mungkin ini yang disebut jagad raya oleh dewa ruci saat “mengorientasi” bimo. Setiap menit, setiap ucapan, setiap tindakan, setiap orang yang kita temui, setiap tulisan yg kita baca tersimpan dalam “lemari-lemari” ingatan dg rapi.

Berdasarkan pengalamanku “menjelajahi” mimpi dan “berdialog” dengan ahli mimpi lewat buku-buku mereka, aku menyimpulkan mim disebut bunga tidur jika ketika bangun aku tidak ingat lagi apa yang terjadi dalam mimpi. Jika ketika bangun aku ingat persis alur cerita mimpi dan aku merasakan emosi tertentu berarti mimpi itu berasal dari pergolakan masalah di alam bawah sadar.

Aku punya mimpi yang aku alami 5 tahun yang lalu dan aku masih ingat jelas alur mimpi itu, aku ingat rasa takut yang melumpuhkan seluruh sistem syarafku. Dan aku mengalami mimpi itu lebih dari 3 kali. Aku masih ingat suasana ruangan di dalam mimpiku, hangat, seperti suasan musim kemarau. Aku memejamkan mataku, sayup2 aku mendengar suara adzan subuh, sudah waktunya bangun. Aku berusaha membuka mataku tapi terasa berat sekali. Oh mungkin karena ada kototan mata, aku mengucek mataku beberapa kali dan memaksa menarik kelopak mataku ke atas, usahaku gagal. Kelopak mataku tetap tidak terbuka. Aku panik, apa yang terjadi, bagaimana ini. Aku bangun dari tempat tidur, dan meraba-raba tembok yang mengarah ke kamar mandi. Aku berusaha mencari kran air atau gayung. Tanganku meraba seluruh tembok di kamar mandi. Aku takut sekali, gelap. Aku menemukan kran ini, aku memutar kran, mengalir air. Aku membasuh mukaku berharap aku bisa melek. Berkali-kali aku membasuh mukaku, mengucek mataku, tetap kelopak mataku tidak mau terbuka. Aku panik, takut, jangan2 aku buta… aku mencoba mencari air mandi, aku mencelupkan kepalaku ke dalam bak, dan akhirnya aku bisa membuka mataku di dunia nyata. Aku terbangun dari mimpi, tapi selama seminggu lebih aku masih merasakan perasaan takut dan panik.

Karena penasaran apa masalah yang sedang aku hindari? Sampai terbawa ke alam mimpi, aku mencoba “berkonsultasi” dengan Jung lewat teorinya, aku menemukan bahwa mata melambangkan keinginan bersosialisasi, menjalin hubungan dengan orang lain. Setelah menelaah dan menganalisa, memang benar aku kesulitan menjalin relasi dengan orang baru. Aku butuh waktu lama untuk nyaman dengan orang lain. Aku takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Aku ingin berteman tapi juga nggak ingin berteman. Karena itu aku ingin melihat tetapi kesulitan membuka kelopak mata.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s