Ini Alasan Wanita Kecanduan Permak Wajah

image

      http://www.apollohealthcity.com/   departments-apollo-cosmetic/

Di kota kelahiranku, sampai sekarang juga masih di kota ini, Semarang, mulai menjamur klinik-klinik kecantikan kulit. Bahasa kerennya aestethic center, atau klinik kecantikan. Beragam layanan ditawarkan, mulai dari yang tradisional sampai modern. Mulai dari mencet komedo atau jerawat pakai alat besi kecil mirip (saya kurang tau nama alat itu), sampai yang hi-tech dengan teknologi laser termutahir. Dari yang cuma perawatan dasar sampai tindakan korektif, seperti botox, filler, dan sejenisnya. Mulai dari yang pakai bahan alami sampai kimiawi.

image

                cargocollective.com

BEAUTY IS PAIN?
Bahkan di brosur yang pernah saya terima ada klinik yang memberikan jaminan memutihkan kulit sawo matang, dalam 1 kali perawatan. Wooww… saya terheran-heran, bagaimana bisa ya memutihkan kulit yang pigmen aslinya sawomatang. Apa tidak merusak pigmen kulit secara permanen ya?

Ada teman saya yang suka datang ke klinik kecantikan demi menyempurnakan kulitnya. Setelah perawatan dia seperti menjelma menjadi dracula yang takut sinar matahari. Dia selalu sedia payung dan kaca mata hitam. Katanya ini bagian dari perawatan memutihkan kulit.

Sebagai perempuan, saya pernah juga mencoba perawatan facial di spa. Awal-awal wajah dibersihkan dan dipijat, rasanya rileks sekali. Selanjutnya komedo (wajah sy tambang komedo. Hehe) di ekstrak dengan alat besi. Rasanya aduhai sakit luar biasa, terutama dibagian pinggir hidung. Wuihh… ampun deh.

Setelah perawatan saya tanya ke suami,
“menurut ayang, aku perlu facial dan sejenisnya biar keliatan cantik?”
Jawaban suamiku, “nggak perlu. Sekarang aja sudah cantik kok”.
Yak, sudah dipastikan saya tobat dari segala penderitaan perawatan wajah. Cukup dengan perawatan skin care yang dijual pasaran saya sudah merasa cantik.

WAJAH SEBAGAI IDENTITAS DIRI

image

             noizeology.wordpress.com

Sebagai wanita, sangat wajar ingin terlihat cantik, terutama di depan orang yang spesial di hati. Dan sangat wajar wanita merogoh kocek demi terlihat cantik, baik itu lewat makeup ataupun permak wajah. Tetapi menjadi masalah jika wajah menjadi identitas diri.

Contoh kalimat wajah sebagai identitas diri, dari yang umum sampai ekstrem.
– “aku merasa cantik jika tidak ada pori-pori di muka”
– “aku merasa cantik jika tidak ada secuilpun jerawat di muka”
– “aku merasa cantik jika wajahku putih seperti di iklan”
– “aku merasa cantik jika hidungku dibuat mancung”
– “aku merasa cantik jika bibirku dibuat tebal”

Kalimat-kalimat seperti diatas menggambarkan identitas diri “saya adalah wanita cantik jika …. (syarat dan ketentuan berlaku”. Jika syarat dan ketetuan ini tidak pernuhi maka akan membuat wanita merasa tidak puas dengan dirinya. Merasa ada sesuatu yang hilang. Merasa kehilangan sebagian dari dirinya, dan rentan mengalami stres dan depresi. Oleh karena itu, sebagian wanita tidak masalah mengeluarkan uang jutaan bahkan ratusan juta demi merasa cantik.

Sama seperti pria yang meletakkan identitas dirinya di pekerjaan. Begitu selasai masa tugas atau pensiun, maka rentan sekali mengalami post power syndrome.

Ditunjang dengan sifat dasar manusia “tidak pernah puas”. Syarat dan ketentuan cantik akan terus meningkat. Jika awalnya hanya mengecilkan pori, meningkat menjadi merubah warna kulit, meningkat lagi merubah bentuk wajah. Bahkan bisa merembet ke bagian tubuh lainnya.

DIRI SOSIAL, DIRI IDEAL, DIRI SEBENARNYA

image

https://www.pinterest.com/abbiepaxton98/mirror-images/

identitas diri dibentuk dari tiga hal yaitu diri sosial, diri ideal, dan diri sebenarnya. Bagi mahasiswa psikologi pasti familiar dengan Carl Roger, dia menciptakan teori konsep diri. Menurut saya, hasil merenung, identitas diri adalah konsep diri yang tertanam di alam sadar dan bawah sadar.

Diri sosial adalah pengakuan orang-orang sekitar yang di”amini” oleh diri sendiri. Pengakuan orangtua yang paling berperan disini. Di kasus wanita kecanduan operasi plastik biasanya dimulai dengan perkataan orangtua “kamu tidak cantik karena wajahmu berjerawat”, atau sejenisnya. Kemudian “diamini” oleh anak, “ternyata aku tidak cantik karena berjerawat”. Pengakuan laki-laki disekitar juga berperan penting, contoh saja laki-laki hanya menggoda wanita yang kulit wajahnya putih bersinar tanpa noda sedikitpun. “Diamini” oleh wanita, wanita cantik itu harus sesuai standar mereka.

Diri ideal bisa dikatakan sebagai diri imajinasi, bayangan di pikiran bentuk wajah yang diinginkan. Misal saja bentuk hidung sejak lahir pesek (apa ya bahasa indonesianya pesek?), sedangkan imajinasi di kepala hidung yang dimiliki mancung ala-ala orang eropa. Jadilah identitas diri “saya cantik dengan hidung mancung”

Diri sebenarnya itu bentuk wajah asli pemberian Tuhan. Bagi sebagian wanita, bentuk asli dari Tuhan itu yang terbaik. Sudah merasa cantik dengan pemberian Tuhan. Tapi bagi sebagian yang lain, bentuk asli dari Tuhan berbeda dengan diri sosial dan diri ideal. Muncul rasa tidak puas dengan diri sebenarnya, dan mulai permak wajah agar sesuai dengan diri sosial dan diri ideal.

KESIMPULAN
Perawatan wajah di koridor korektif seperti menghilangkan jerawat, komedo, flek hitam adalah hal yang sangat wajar dilakukan wanita. Menjadi cantik itu kodrat wanita. Selama tidak merubah bentuk asli pemberian Tuhan. Perawatan dan permak wajah karena dorongan diri sosial dan ideal yang melenceng jauh dari diri sebenarnyalah yang berbahaya. Identitas diri yang berdasarkan wajah (dan fisik) tidak akan memberi kepuasan, sehingga rentan mengalami kecanduan permak wajah.

Semarang, 22 Juni 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s