Kisah dibalik masalah

Masalah itu seperti makanan sehari-hari yang wajib dimakan. Kata orang tua, jika seseorang sudah tidak punya masalah berarti urusannya di dunia fana sudah selesai. 

Masalah ada yang kecil ada yang besar, ada yang nyata ada yang khayalan pikiran semata, ada yang bisa diselesaikan dengan mudah ada yang membuat stres sampai depresi. 

Saya ingat sekali sewaktu ospek hari pertama di Fakuktas Psikologi Undip. Dosen yang paling dihormati, Bapak Darmanto Djatman, bertanya kepada seluruh mahasiswa baru.

Kalian semua hidup didunia pasti mengalami masalah hidup. Menurut kalian, apa sebenarnya masalah itu? 

Pertanyaan itu sederhana tapi sangat dalam. Apa itu masalah? Kok sampai membuat hidup gonjang ganjing.

Di dalam semua buku dan jurnal literatur psikologi dan ilmu sosial tidak pernah ada penjelasan “masalah adalah…..”. Saya mendapatkan jawabannya justru lewat perenungan, sesuai dengan prinsip dasar favorit pecinta psikologi 

Saya berfikir maka saya ada

HARAPAN VS REALITA

Jawaban saya ketika mendapat pertanyaan apa itu masalah?

Masalah adalah kenyataan yang terjadi didepan mata diluar atau melenceng jauh dari perencanaan dan harapan.

Yup. Masalah muncul ketika kenyataan tidak sesuai dengan harapan. Contoh: saya berharap besok pagi bisa belanja ayam filet dan saya punya rencana memasak sate. Ternyata besok paginya tidak ada yang menjual ayam filet. Buat saya itu masalah karena tidak jadi memasak sate.

MASALAH MENJADI STRES 

Lanjut dari contoh saya yang diatas. Masalah karena tidak bisa memasak sate. Jika masalah ditambah dengan emosi negatif muncullah stres. Begini rumusnya

Tidak bisa memasak sate + takut mengecewakan suami = stres

Tidak bisa memasak sate + sedih tidak bisa makan sate = stres. 

Stres ringan bisa mudah diatasi dengan solusi yang mudah, yaitu merubah harapan atau perencanaan . 

MASALAH MENJADI DEPRESI

Masalah sepele bisa menjadi pemicu depresi. Kenapa disebut pemicu bukan penyebab? Menurut penelitian, depresi itu penyakit yang disebabkan ketidakseimbangan neurotransmiter atau hormon di otak. Bahkan penelitian terbaru menyebutkan depresi berasal dari genetik di dna. 

Selama keseimbangan neurotransmiter dan hormon terjaga, maka kondisi psikologis akan aman dan tentram. Sebaliknya, jika tidak seimbang muncullah depresi dan gangguan jiwa lainnya. 

Beragam teori menjelaskan hubungan masalah dengan depresi. Dari sekian banyak teori, saya meyakini jembatan antara masalah dan depresi adalah pola pikir negatif atau keyakinan yang salah. 

Contohnya begini

Hari ini tidak jadi masak sate + kalau tidak masak sate pasti suami marah = depresi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s