Masih ‘gila’kah kita?

Berhubung hari ini, 10 Oktober 2016, adalah hari kesehatan jiwa internasional. Saya akan membahas seputar jiwa yang sehat. Orang-orang bilang sekarang jaman edan (baca: gila). Dan kata gila pernah jadi tren sekitar awal tahun 2000an sampai sekarang, “gila bok… “, atau “gila ya tu orang”, dan lain sebagainya. 

Jadi gila itu apa sih, orang yang kurang waras? Atau orang waras yang tidak memakai otaknya (untuk berpikir)? Dan apa sih indikator jiwa yang sehat? 

DEFINISI GILA

Di ilmu psikologi tidak pernah memakai kata gila tetapi abnormal atau tidak normal. Pertanyaannya siapa yang menetapkan standar normal? WHO kah? Sebenarnya WHO hanya wadah legal yang menjadi rujukan seluruh dunia. Tetapi yang menetapkan standar normal di masing-masing daerah adalah kesepakatan bersama orang-orang yang ada disitu. Normal di satu daerah akan berbeda dengan daerah lain. 

Contoh:  di daerah tempat berkumpul orang yang suka mabuk, standar normal disana adalah minum minuman keras sepanjang hari. Lalu ada satu orang yang tidak mau minum alkohol sama sekali. Orang ini akan dapat cap “tidak normal”. 

Definisi gila itu tergantung pada kesepakatan masyarakat. Saya pernah membaca jurnal penelitian dari luar negeri yang menyebutkan masyarakat jawa itu menunjukkan gejala schizofrenia. Karena apa yang dirasa dan diucapkan bisa berbeda. Buat kita orang jawa, itu hal yang normal. Kita dididik untuk ‘mendem njero’ (menyembunyikan isi hati dan pikiran). Berbeda jauh dengan orang luar negeri atau suku lain di Indonesia, yang terbiasa untuk mengekspresikan isi hati dan pikiran secara blak-blakan. 

Begitu juga dengan definisi berbagai macam abnormalitas di Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder. Berdasarkan kesepakatan bersama para psikolog, psikiater, dan pihak terkait lainnya. Biar lebih gampang diterapkan secara umum,dibuatlah batasan-batasan tanda atau gejala yang muncul. Disebut abnormal A jika menunjukkan gejala-gejala tertentu dan dalam kurun waktu tertentu. 

SEHAT JIWA MENURUT WHO

sebagai lembaga tertinggi yang mengatur tentang kesehatan, yang artinya berdasarkan kesepakatan masyarakat internasional. WHO mengeluarkan kritetia sehat jiwa:

  • Mampu belajar dari pengalaman
  • Mudah beradaptasi
  • Lebih senang memberi daripada menerima
  • Lebih senang menolong daripada ditolong
  • Mempunyai rasa kasih sayang
  • Memperoleh kesenangan dari hasil usahanya
  • Menerima kekecewaan untuk dipakai sebagai pengalaman
  • Berpikir positif (positive thingking)

Silahkan kalian sendiri yang menentukan masih ‘gila’kan kalian? Atau kalian masih pura-pura waras? 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s