seks sejak balita, perlukah pendidikan seks dini?

Beberapa hari yang lalu ada tulisan di timeline facebook sy. Di tulisan itu, seorang ibu menceritakan kegelisahaannya melihat anak-anak balita, laki-laki dan perempuan, usia 4tahun bermain ala orang dewasa yang sudah menikah. Ada adegan ciuman, dan pamer alat kelamin, bahkan ada yang memposisikan diri seperti adegan “dewasa”. Tetapi di tulisan itu tidak disebutkan dimana tempat kejadian, kapan terjadi. Jika dilihat dari komentar-komentar distatus itu, saya berasumsi terjadi di Indonesia. 

Mungkin terdengar diluar nalar. “Mana mungkin anak kecil paham kayak begituan”, itu respon wajar ya. Tetapi dengan gencarnya sinetron-sinetron tidak mendidik, ditambah dengan informasi internet yang meluas (meskipun banyak website dewasa yang sudah ditutup Menkoinfo), ditunjang juga dengan kurangnya pengawasan orangtua atau pengasuh. Saya tidak terlalu kaget. 

Dulu sewaktu saya kerja praktek di suatu PAUD. Saya bertugas menganalisa proses belajar dengan metode bilingual, selama dikelas saya duduk dibelakang untuk mengobservasi. Ada dua murid laki-laki, usia sekitar 4tahun. Berbicara berbisik-bisik sambil melihat ke arah saya. Saya tidak tahu apa yang dibicarakan. Lalu satu anak kecil berjalan ke arah saya, dan berusaha mencium saya. Untung reflek saya bagus, jadi saya menghindar. Betapa kagetnya saya melihat ulah anak kecil tadi. Dia berbalik badan sambil cengar cengir dengan temannya. Mungkin seperti ini yang dilihat ibu itu (penulis status di fb).

Saya mendiskusikan kejadian itu ke guru dan kepala sekolah. Pihak sekolah mengatakan anak itu diasuh oleh baby siter dan orangtuanya sudah bercerai, bapak kerja diluar kota. Ibunya kerja di dalam kota. Pihak sekolah juga bilang ada beberapa laporan dari siswi yang melaporkan ‘kenakalan’ dari para siswa.

 TAHAP PERKEMBANGAN USIA BALITA

menurut Erikson, anak usia 3-6tahun, sampai pada tahap perkembangan:

  1. Identifikasi orangtua
  2. Mengembangkan gerakan tubuh
  3. Keterampilan bahasa
  4. Rasa ingin tahu
  5. Imajinasi
  6. Kemampuan menentukan tujuan.

Pada usia ini anak senang bermain peran, seperti bermain rumah-rumahan. Anak laki-laki berperan sebagai ayah, anak perempuan berperan sebagai ibu. Bermain peran penjahat dan pahlawan. Dan lain sebagainya. 

Saya berpikir mungkin karena anak masih ditahap bermain peran sebagai ayah-ibu, dulu hanya seputar tugas ayah mencari uang dan ibu memasak. Sekarang dengan adanya pornografi yang meluas di internet, menggeser skenario bermain peran ayah-ibu.

PENDIDIKAN SEKS SEJAK BALITA

Pendidikan seks sudah digencarkan beberapa tahun yang lalu, tetapi selalu terbentur norma tabu. Awalnya pendidikan seks menyasar usia remaja yang disinyalir mulai aktif secara seksual. Sekarang muncul cerita-cerita anak SD, bahkan TK, mulai menjajal kegiatan seksual. Apalagi sempat marak aksi pedofil yang beraksi di sekolah-sekolah. 

Pertanyaannya perlukah pendidikan seks sejak balita? Saya yakin perlu sekali. Kekhawatiran orangtua adalah bagaimana cara yang tepat untuk menyampaikan ke anak. 

Di dalam website www.parenting.co.id dijelaskan cara terbaik untuk memberikan pendidikan seks untuk balita:

  1. Ajak anak mengenali bagian tubuhnya dan jelaskan fungsi setiap bagian dengan bahasa sederhana. Dan jelaskan bagian tubuh mana saja yang tidak boleh diperlihatkan atau dipegang orang lain selain orangtua.
  2. Bangun kebiasaan positif. Misal tidak berganti baju di tempat terbuka, tidak pipis di sembarang tempat.
  3. Tanamkan pentingnya menjaga organ tubuh tertentu dari orang lain.
  4. Biasakan anak berpakaian sesuai identitas kelaminnya.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s